Written by 3:52 pm Berita Game, Panduan & Tips, PC GAMES, Review & Preview, Uncategorized

Apex, Marvel Rivals, atau Overwatch 2?

Perang Hero Shooter di Steam 2025: Apex Legends, Marvel Rivals, dan Overwatch 2

Hero shooter Steam 2025 lagi panas-panasnya, dan di tengah tumpukan game baru, ada tiga nama yang nggak bisa dihindari: Apex Legends, Marvel Rivals, dan Overwatch 2. Tiga-tiganya sama-sama free-to-play, sama-sama penuh karakter unik, tapi masing-masing punya “rasa” dan gaya perang yang beda banget. Di chart Steam, mereka bukan sekadar numpang lewat: Apex stabil di papan atas, Marvel Rivals meledak dengan angka pemain gila-gilaan, dan Overwatch 2 pelan tapi pasti bangun basis baru di PC lewat Steam.

Yang bikin menarik, hero shooter sudah beberapa kali diumumin “mati” oleh internet, tapi angka nggak pernah bohong. Di 2025, Apex Legends masih nyentuh ratusan ribu pemain bersamaan di Steam, Marvel Rivals sempat tembus lebih dari 600 ribu concurrent, dan Overwatch 2 tetap dijaga puluhan ribu pemain tiap hari di platform ini saja, di luar Battle.net dan konsol. Jadi, ini bukan sekadar nostalgia — memang masih ada jutaan orang yang milih login ke salah satu dari tiga game ini hampir setiap hari.

Kenapa Tiga Hero Shooter Ini Bisa Mendominasi Steam 2025?

Kalau ngomongin hero shooter Steam 2025, gampang banget buat cuma lihat angka di chart dan bilang “oh, yang rame ya ini-ini aja”. Tapi menariknya, alasan Apex Legends, Marvel Rivals, dan Overwatch 2 bisa mendominasi itu beda-beda.

Apex Legends dulu muncul sebagai kejutan: battle royale yang tiba-tiba drop tanpa promosi gede-gedean, tapi langsung diangkat konten kreator karena movement-nya gila dan synergy antar Legend terasa fresh. Setelah pindah ke Steam, posisinya makin kuat. Data 2025 nunjukin game ini punya all-time peak di atas 600 ribu pemain di Steam, dan di awal 2025 masih sanggup menyentuh lebih dari 150 ribu pemain bersamaan dengan rata-rata puluhan ribu pemain aktif setiap saat. Buat game live-service berumur segini, grafik kayak gitu bukan hal remeh.

Marvel Rivals beda lagi jalurnya. Dia nggak datang diam-diam, tapi langsung teriak “ini hero shooter Marvel” dan ternyata fans Marvel cukup antusias untuk membuktikan hype itu di angka. Di Steam, Marvel Rivals tercatat punya puncak sekitar 644 ribu pemain bersamaan pada fase awal rilis dan update besar, dengan angka pemain aktif bulanan yang menyentuh jutaan di semua platform. Ketika sebuah IP yang sudah sekuat Marvel dipadu dengan format 6v6 yang sangat gampang dicerna, hasilnya wajar kalau sampai ngeguncang chart.

Overwatch 2 mungkin kelihatan “paling pelan”, tapi konteksnya beda. Basis pemain utamanya sudah lama nongkrong di Battle.net dan konsol, jadi versi Steam itu semacam cabang baru yang dibuka setelah game-nya jalan lama. Meski begitu, di SteamCharts dan tracker lain, Overwatch 2 masih bisa mencatat puncak sekitar 70–75 ribu pemain bersamaan dan rata-rata puluhan ribu pemain tiap hari sepanjang 2025. Untuk ukuran “platform kedua”, itu artinya komunitasnya masih jauh dari kata sepi.

Kalau dilihat dari angle komunitas, tiga hero shooter ini ngisi slot yang beda di kepala gamer. Di Reddit, YouTube, dan TikTok:

  • Apex Legends sering dibahas sebagai “tempat pelarian” buat yang sudah kenyang battle royale lain tapi masih pengin sesuatu yang cepat dan teknis.
  • Marvel Rivals digambarkan sebagai “Overwatch rasa Marvel” yang fun, rame, tapi juga punya potensi meta dalem buat yang mau serius.
  • Overwatch 2 lebih sering jadi ajang curhat cinta-benci: pemain masih jatuh cinta sama hero dan desain core gamenya, tapi juga vokal banget soal monetisasi dan arah update.

Dari sini kelihatan, hero shooter Steam 2025 bukan cuma perang soal “siapa paling banyak pemainnya sekarang”, tapi soal “siapa yang punya identitas paling jelas dan alasan paling kuat buat pemain stay bertahun-tahun”.

Rasa Main: Bedanya Apex, Marvel Rivals, dan Overwatch 2 di Tangan Pemain

Angka bisa bikin kita kebayang seberapa rame hero shooter di Steam 2025, tapi yang paling kerasa di tangan tentunya gameplay. Dan di sini, Apex Legends, Marvel Rivals, dan Overwatch 2 punya kepribadian yang nyaris nggak bisa ditukar.

Apex Legends: Battle Royale + Hero Shooter yang Super Kinetik

Apex Legends selalu jadi kombinasi unik antara hero shooter dengan format battle royale. Lo turun satu squad ke map luas, rebut loot, dan bertahan di ring yang terus mengecil, tapi tiap karakter (Legend) punya kemampuan aktif, pasif, dan ultimate yang benar-benar mengubah cara ngelihat posisi dan tempo fight. Legend kayak Wraith, Pathfinder, atau Octane bikin movement di Apex nggak cuma soal lari dan lompat, tapi juga teleport, zipline, jump pad, dan sebagainya.

Dari data 2025, Apex di Steam masih punya aktivitas yang bikin matchmaking nyaris selalu cepat. Rata-rata pemain harian di kisaran puluhan ribu dengan puncak harian lebih dari 100 ribu, plus puncak besar di awal tahun di atas 150 ribu pemain bersamaan. Angka kayak gitu berarti mode apa pun yang lo pilih, dari battle royale biasa sampai LTM event, hampir pasti hidup.

Yang bikin Apex jadi “game utama” banyak orang adalah curamnya skill ceiling. Movement yang cepat, recoil senjata yang harus benar-benar dihafal, plus synergy ability antar Legend bikin satu clutch 1v3 di sini rasanya priceless. Tapi di sisi lain, buat pendatang baru, hero shooter satu ini sering terasa kejam: baru mendarat, belum pegang senjata enak, sudah ketemu squad yang aim-nya kayak aimbot. Di komunitas, hal ini sering jadi bahan diskusi — apakah Apex terlalu sulit buat pemain baru, atau justru itu yang bikin dia spesial.

Marvel Rivals: Brawl 6v6 Cepat Penuh Fanservice

Marvel Rivals hadir sebagai hero shooter 6v6 yang lebih condong ke arena brawler dibanding battle royale. Lo pilih satu karakter Marvel — dari nama mainstream kayak Spider-Man, Iron Man, Thor, sampai karakter yang lebih niche — lalu perang di map yang lebih sempit dengan objektif jelas, misalnya kontrol titik atau escort payload. Rasa mainnya lebih condong ke “kacau tapi fun” dengan skill-skill yang efeknya besar dan visualnya rame.

Angka pemain Marvel Rivals di 2025 sangat mengesankan. All-time peak di Steam sekitar 644 ribu pemain bersamaan, dan laporan jumlah pemain global menyebut total pemain sudah melewati 20 juta dengan lebih dari 1,5 juta pemain aktif bulanan. Itu nunjukin bahwa meski ada penurunan natural setelah hype rilis, basis pemain yang tertinggal masih sangat besar.

Keunggulan Marvel Rivals dibanding hero shooter lain obvious: lo nggak perlu dikenalkan dulu ke karakternya. Fans Marvel langsung punya “main hero” hanya dari nama: “gue mau main Spidey, titik”. Hal ini bikin onboarding ke game terasa jauh lebih mulus dibanding IP baru yang butuh waktu buat ngenalin cast satu-satu. Di sosial media, banyak klip Marvel Rivals yang rame bukan karena teknikalitas tinggi, tapi karena momen lucu atau epik dari karakter yang sudah dikenal duluan di film dan komik.

Dari sisi rasa, Marvel Rivals mengisi ruang buat orang yang kangen format hero shooter tim, tapi agak capek sama drama Overwatch dan pengen sesuatu yang lebih fresh. Pace-nya cepat, TTK (time-to-kill) cenderung lebih pendek, dan kombo skill antar hero bisa bikin fight jadi sangat swingy: satu ultimate yang timing-nya pas bisa mengubah hasil objektif dalam hitungan detik. Buat sebagian pemain, chaos ini seru; buat yang lain, kadang bikin frustrasi.

Overwatch 2: Format Klasik yang Masih Punya Gigi

Overwatch 2 adalah veteran yang lagi cari bentuk di pasar yang sudah berubah. Core gamenya masih sama: 5v5, role-based (Tank, Damage, Support), map objektif, dan hero dengan skill yang didesain keras di sekitar kerja sama tim. Di sisi rasa, sedikit lebih “tertata” dibanding Marvel Rivals, dengan fokus besar pada komposisi tim dan eksekusi set-up: kapan tank engage, bagaimana support menjaga posisi, dan sebagainya.

Di Steam, Overwatch 2 punya angka yang lebih kalem tapi stabil. Rata-rata pemain bulanannya berada di sekitar puluhan ribu, dengan puncak harian mencapai 50 ribu-plus dan rekor all-time peak sekitar 75 ribu. Mengingat ini hanya Steam dan basis utama masih menyebar di Battle.net dan konsol, hero shooter satu ini jelas belum kehilangan taring sepenuhnya.

Dari perspektif pemain, Overwatch 2 sering jadi love–hate relationship. Banyak yang tetap sayang karena desain hero-nya kuat dan format 5v5-nya bisa menghasilkan momen koordinasi yang sangat satisfying. Tapi di forum dan sosial media, keluhan soal monetisasi, battle pass, dan perubahan arah konten juga sering banget muncul. Meski begitu, fakta bahwa orang masih peduli dan marah menunjukkan satu hal: ini game yang masih berarti buat mereka.

Kalau dirangkum, rasa main tiga hero shooter Steam 2025 bisa dibaca seperti ini:

  • Suka high mobility + battle royale? Apex Legends.
  • Suka fanservice Marvel + baku hantam 6v6? Marvel Rivals.
  • Suka format objektif klasik dengan fokus berat di role & team comp? Overwatch 2.

Apa Artinya Perang Hero Shooter Ini buat Masa Depan Gaming?

Dari kacamata industri, hero shooter Steam 2025 yang digawangi Apex Legends, Marvel Rivals, dan Overwatch 2 ngasih beberapa sinyal menarik.

Pertama, genre ini belum kehabisan bensin. Ada banyak narasi beberapa tahun lalu yang bilang hero shooter sudah jenuh dan pemain pindah ke arah lain, tapi data menunjukkan lain: Apex tetap kuat, Overwatch 2 bertahan, dan Marvel Rivals sebagai pendatang baru bisa tembus ratusan ribu pemain di Steam dalam waktu singkat. Artinya, pemain masih mau commit ke game yang berbasis hero, selama eksekusinya niat dan kontennya jalan terus.

Kedua, identitas dan ekosistem makin penting. Apex nggak punya lisensi besar kayak Marvel, tapi punya identitas movement dan gameplay yang sangat kuat plus ekosistem esports dan konten kreator yang hidup. Marvel Rivals punya kekuatan IP dan timing rilis yang tepat, plus desain yang cukup accessible buat menarik pemain baru dalam jumlah masif. Overwatch 2 punya sejarah, karakter ikonik, dan player base lintas platform yang masih besar, meskipun harus bekerja ekstra buat menjaga kepercayaan komunitas.

Ketiga, buat gamer sendiri, kondisi 2025 ini sebenarnya win–win. Lo nggak lagi “dipaksa” main satu hero shooter karena itu satu-satunya opsi besar di pasar. Mau sesuatu yang cepat dan brutal? Ada. Mau sesuatu yang lebih taktis dan team comp-heavy? Ada juga. Semuanya free-to-play, jadi yang dipertaruhkan cuma waktu dan seberapa besar lo mau terjebak di skin shop masing-masing game.

Buat developer yang kepikiran masuk ke ranah hero shooter setelah 2025, PR-nya jelas berat. Data player count menunjukkan bahwa pemain cenderung bertahan lama di satu–dua judul yang sudah mereka investasikan waktu dan mungkin uang. Kalau mau jadi challenger baru, game tersebut harus punya satu hal yang cukup gila atau cukup segar untuk bikin orang rela pindah dari Apex, Marvel Rivals, atau Overwatch 2 — bukan hal yang gampang.

Untuk sekarang, hero shooter Steam 2025 masih akan diwarnai tiga nama besar ini. Apakah beberapa tahun lagi kita bakal lihat landscapenya berubah lagi, atau justru tiga game ini naik kelas jadi “CS2 dan Dota 2 versi hero shooter”? Itu tergantung seberapa cerdas masing-masing developer membaca komunitasnya.

Visited 5 times, 1 visit(s) today
Close